Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menulis itu susah : Hanya mindset

Seorang pemuda terpaku melihat layar monitornya, matanya tidak percaya melihat tulisan “Nusa Tenggara Timur” yang tertera di samping namanya sendiri. Dia mulai menerawang mengingat bagaimana rencana-rencananya yang begitu matang jika dirinya ditugaskan pada salah satu Instansi Pemerintah di asal daerahnya. Harapannya yang ingin menulis aktif terus, mengeluarkan karya terus, dan tetap menggali semua ilmu dari dunia maya tampaknya pupus sudah. Harapan melihat keluarganya setiap hari setiap waktu hilang sudah, apalagi mimpi untuk merasakan nikmatnya kasur di rumah yang tidak pernah ia rasakan selama 4 tahun kuliah kedinasan di Jakarta karena dirinya lebih sering tidur di kasur super tipis yang kerap membuat punggungnya pegal. Beberapa waktu kemudian datanglah teman-temannya bersimpati, tak percaya karena dari pilihan, nilai, dan asal daerahnya, pemuda ini sama sekali tidak menampakkan kemungkinan untuk ditempatkan jauh dari rumahnya. tapi begitulah nasib membawanya kembali untuk merantau.
Siapakah gerangan pemuda itu? itu saya, saya yang menatap kecewa hasil penempatan karena saya hampir pede untuk ditempatkan di daerah saya. Saya yang sebelumnya senang browsing guna membaca berita-berita dan ulasan menarik di dunia maya, saya yang juga lumayan aktif dalam menuliskan sesuatu, saya yang berencana lebih aktif lagi menelurkan tulisan jika ditempatkan di daerah asal saya. Hari itu semua harapan punah karena satu hal yang tidak bisa saya percaya, yaitu kembali merantau di daerah orang.
Sejujurnya, meninggalkan keluarga dan jauh dari kampung halaman adalah sesuatu yang sudah biasa bagi saya karena selama 4 tahun sudah mengenyam belantara Jakarta, namun berbeda cerita jika anda ditempatkan di daerah yang dianggap oleh semua orang adalah daerah “terbelakang” yang berarti susah untuk mengembangkan hobi saya dalam menulis. 2 minggu saya bergelut dengan diri saya sendiri, sampai sempat memutuskan untuk tidak akan lagi menulis di dunia online maupun membuat buku lagi. Saya juga berpikir jumlah buku yang saya telurkan cukuplah hanya 2 buah saja, tidak akan bertambah lagi karena kebetulan daerah penugasan saya tergambarkan sangat jauh dari kata “modern”. Ada 2 mindset yang terus bertempur dalam hati saya:

Mindset Buruk
1. disana adalah daerah tertinggal, koneksi Internet sangat susah, hentikanlah sok belajar dari dunia maya.
2. disana adalah daerah jarang dikenal, kamu akan bosan, fokuskan saja dengan pekerjaanmu agar tak bosan.
3. Jauh dari Jakarta, naskahmu akan lama diterima dan lama juga sampai jika dibalas oleh penerbit di Jakarta
4. Cukuplah sudah bermimpi untuk belajar menulis di Kompasiana, akses Internet saja sudah susah apalagi Kompasiana
Untungnya Mindset buruk di atas dihantam oleh mindset baik
Mindset Baik
1. Saya sempat melihat ketika sempat ditugaskan disana selama 2 minggu bahwa jaringan internet via kabel telpon sudah masuk, jadi cari celah untuk memasangnya, jika tidak maka pakai jaringan seluler, selalu ada cara untuk mencari jaringan internet, jika tidak kan masih bisa menulis offline karena toh gak ada bedanya.
2. Justru jika daerahnya jarang dikenal maka kenalkanlah pada dunia dengan tulisanmu. Apalagi jika gara-gara tulisanmu daerah itu dikenal, mungkin memang takdirmu untuk mengenalkannya pada dunia.
3. Tidak ada yang tidak mungkin, imposibble is nothing, tidak ada yang pasti di dunia ini.
4. Kreatif adalah memanfaatkan celah sekecil mungkin untuk mendapatkan hasil yang maksimal, jika ada kemauan pasti ada jalan.
Untunglah yang menang (sementara) adalah mindset baik yang membuat saya memutuskan untuk tidak menutup blog saya, terus menulis dan menulis baik di blog sendiri maupun kompasiana. Apalagi ketika tulisan saya dikomentari oleh para kompasianer yang membuat saya menjaga lilin semangat untuk menulis.
Cerita tentang diri saya di atas hanya untuk memberi contoh kasus bahwa semua hanyalah masalah mindset. Ketika anda mengatakan menulis susah karena tidak ada waktu, tidak ada keterampilan, tidak ada bakat, dan berbagai alasan lainnya, sebenarnya semua adalah masalah mindset. Namun jika keinginan menulis anda sangat tinggi, jangan biarkan mindset buruk menguasai pikiran dan mendikte anda menjadi seseorang yang pasrah dengan keadaan. Senggangkan waktu untuk membagi pemikiran dan ilmu anda karena menulis adalah berbagi bagi sesama.
Lalu apakah mindset baik akan terus bersemayam pada diri saya? semoga saja!!
Mau lihat buku saya? bukan novel bukan sastra, saya hanya gemar menulis IT dengan bahasa sederhana, lihat Disini.
Artikel ini diambil dari tulisan lookj di Kompasiana